05. II TAWARIKH 26 : 1 – 18

PENGAJARAN DALAM

IBADAH  UCAPAN  SYUKUR  UMAT  ALLAH

UZIAH

RAJA YEHUDA DI YERUSALEM

Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah.

Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil. 

II TAW. 26 : 5

OLEH

PDT. ARIE A. R. IHALAUW


NASKAH BACAAN

II TAWARIKH 26 : 1 – 5

1. Segenap bangsa Yehuda mengambil Uzia, yang masih berumur enam belas tahun dan menobatkan dia menjadi raja menggantikan ayahnya, Amazia. 2. Ia memperkuat Elot dan mengembalikannya kepada Yehuda, sesudah raja mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya. 3. Uzia berumur enam belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh dua tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yekholya, dari Yerusalem. 4. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. 5. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil. 6. Maka majulah ia berperang melawan orang-orang Filistin dan membongkar tembok Gat, Yabne dan Asdod, lalu mendirikan kota-kota di sekitar Asdod dan di lain-lain wilayah orang Filistin. 7. Allah menolongnya terhadap orang Filistin, dan terhadap orang Arab yang tinggal di Gur-Baal, dan terhadap orang Meunim. 8. Orang-orang Amon membayar upeti kepada Uzia. Namanya termasyhur sampai ke Mesir, karena kekuatannya yang besar. 9. Uzia mendirikan menara di Yerusalem di atas Pintu Gerbang Sudut di atas Pintu Gerbang Lebak dan di atas Penjuru, serta mengokohkannya. 10. Ia mendirikan juga menara-menara di padang gurun dan menggali banyak sumur, karena banyak ternaknya, baik di Dataran Rendah maupun di Dataran Tinggi. Juga ia mempunyai petani-petani dan penjaga-penjaga kebun anggur, di gunung-gunung dan di tanah yang subur, karena ia suka pada pertanian. 11. Selain itu Uzia mempunyai tentara yang sanggup berperang, yang maju berperang dalam laskar-laskar menurut jumlah anak buah yang dicatat oleh panitera Yeiel dan penata usaha Maaseya, di bawah pimpinan Hananya, salah seorang panglima raja. 12. Kepala-kepala puak pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa itu seluruhnya berjumlah dua ribu enam ratus orang. 13. Di bawah pimpinan mereka terdapat satu balatentara, terdiri dari tiga ratus tujuh ribu lima ratus orang yang gagah perkasa dalam berperang, untuk membantu raja dalam menghadapi musuh. 14. Uzia memperlengkapi seluruh tentara itu dengan perisai, tombak, ketopong, baju zirah, busur dan batu umban. 15. Ia membuat juga di Yerusalem alat-alat perang, ciptaan seorang ahli, yang dapat menembakkan anak panah dan batu besar, untuk ditempatkan di atas menara-menara dan penjuru-penjuru. Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat. 16. Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. 17. Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas; 18. mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: “Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini.”

PENGANTAR

Menjadi yang nomor satu (terhormat dan terutama) selalu alan dikejar siapapun, seperti : ingin menjadi raja, menjadi presiden, menjadi lurah, menjadi kepala bahagian, menjadi pemimpin, dan sebagainya. Semua orang pasti mempunyai cita-cita demikian. Sulitnya, tidak semua orang terhormat bisa menjadi yang terbaik. Pandanglah orang berkampanye untuk mencapai cita-citanya; akan tetapi setelah tidak terpilih dan pesta demokrasi berakhir, gairah kerja menurun dan cenderung putus asa. Sikap itu muncul karena banyak materi telah dikeluarkan untuk merebutkan tahta kepemimpinan. Lihatlah ulah karyawan di kantor ! Suka mencari perhatian atasan dengan tujuan tertentu. Ia akan kecewa, jika rekan lain diangkat setingkat di atasnya.

PENDAHULUAN

 Uziah masih remaja, ketika diangkat menggantikan ayanya, Amaziah, menjadi Raja Yehuda di Yerusalem (2 Taw. 26:1 -> “Uzia, yang masih berumur enam belas tahun dan menobatkan dia menjadi raja menggantikan ayahnya”). Ia menjadi raja sejak tahun 767 sb. Masehi. Bisa dibayangkan, bagaimana seorang remaja memerintah kerajaan yang begitu besar. So pasti, petinggi bekerja keras, jikalau tidak demikian hancurlah kerajaan. Banyak persoalan dalam negeri bertimbun : politik ekonomi dan hubungan internasional yang sering terganggu. Yehuda menghadapi ancaman musuh bebuyutan : Palestina, Arab, Meunim dan Amon (2 Taw. 26:6-8).

Pada awal pemerintahannya Uzia “melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia selalu tekun beribadah mencari Allah. Ia takut akan Allah” (2 Taw. 26:4-5), Allah Israel. Lalu TUHAN, Allah Israel, membuat segala usahanya berhasil. Ia menjadi raja yag termashur sampai ke Mesir (ay.8). Pembangunan Yerusalempun berjalan baik (ay.9-10). Ia membangun sistem pertahanan keamanan yang cukup tangguh (ay.11-15). Akan tetapi sikap Uziah terhadap TUHAN tidak berlangsung lama. Setelah Uzia mencapai kejayaan, wataknya berubah. Ia melakukah kejahatan di mata TUHAN. Ia menjadi tinggi hati dan melakukan hal-hal yang tidak baik. Ia tidak setia kepada TUHAN, bahkan mengambil alih fungsi Imam Besar. Ia mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya  (2 Taw. 26 : 16 – 18). TUHAN marah, lalu menimpakan penyakit kusta kepadanya.

POKOK – POKOK PEMBERITAAN

Sejarah Raja Uziah mendorong kita mempelajari bagaimana seseorang berjalan bersama Allah, baik sebelum maupun setelah orang terkenal. Beberapa pokok pemberitaan yang perlu mendapat perhatian adalah :

 Kesetiaan mengabdi (devosi) kepada Allah.

 Kesetiaan mengabdi merupakan sikap yang dituntut oleh Allah. Kesetiaan itu bertumbuh dari keyakinan iman terhadap Allah dan karya-Nya yang menyelamatkan. Siapapun pernah mengalami pasang surut kehidupan : pekerjaan, rumahtangga, prcintaan, dan sebagainya. Dalam kesempatan tertentu kita berada dalam situasi sulit yang tidak dapat diatasi sendiri. Pada saat itu tidak seorang sahabat ataupun kenalan mengulurkan bantuan kepada kita.  Akhirnya kita berjalan menuju Allah. Sepanjang masa kesusahan  kita mencari Allah : tekun beribadah, rajin membaca Alkitab serta berdoa. Lalu Allah yang meneliti hati dan akalbudi menuntun kita keluar dari malapetaka. “Allah membuat segala usahanya berhasil” (2 Taw. 2:5).

 Sikap itu berlangsung sementara. Setelah berhasil, kita menjadi tinggi hati dan menyombongkan segala usaha yang dikerjkan. Kita lupa, bahwa keberhasilan itu hanyalah kasih-karunia Allah semata-mata. Kita terjatuh ke dalam dosa. Kita tidak mengabdi kepada-Nya.  Padahal TUHAN Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Sementara kita memperlakukan Dia untuk mencapai keuntungan pribadi. Kita menjadikan TUHAN sebagai alat pemuas keinginan. Jika yang diinginkan telah tercapai, kemudian kita meninggalkan Dia.

 Melalui Musa TUHAN mengingatkan : “Janganlah engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu. Janganlah kaukatakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini…, jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu,… aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa…” (Ul. 8:14, 17-19).

 Keberhasilan adalah pemberian Allah.

 Kadang-kadang kita berpikir : “Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini” (Ul.8:17). Kita menyombongkan hasil pekerjaan di depan semua orang. Bahkan dalam setiap sambutan di awal Ibadah Ucap Syukurpun kita menceritakan kesuksesan, tanpa rasa malu kepada TUHAN. Padahl TUHAN-lah yang “memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan”. Dapatkah kesusksesan diraih siapapun, jikalau tubuhnya sakit-sakitan ? Dapatkan seorang penderita penyakit saraf berpikir cemerlang ? Tidak, sekali-kali tidak mungkin ! Kekuatan manusia (kita) diberikan oleh TUHAN, agar menguatkan keyakinan iman bahwa Dia setia pada perjanjian yang diikatkan-Nya. Kekayaan (bhs. Batak : hamoraon) adalah kesehatan : sehat iman, sehat tubuh dan sehat hati nurani dan akalbudi ! Semua itu adalah pemberian TUHAN semata-mata. Tanpa kesehatan yang baik, tidak seorangpun dapat meraih sukses.

 Hidup itu berkembang di antara pilihan.

 Untuk mencapai kehidupan yang layak, kita perlu membuat pilihan : setia mencari Allah dan lakukan kehendak-Nya atau mengikuti rancangan akalbudi sendiri. Pilihan ini menentukan keberhasilan atau kegagalan. TUHAN Allah menghendaki kita setia mengasihi Dia dan taat memberlakukan kehendak-Nya. Di dalam kalimat itu terkandung makna : kita dibebaskan berpikir dan mengambil keputusan untuk mengembangkan potensi pemberian Allah, tetapi dalam hal itu kita perlu menyelaraskan buah pikiran kita kepada kehendak Allah. Itulah pilihan terbaik !

 Sejak semula memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada manusia ciptaan-Nya. Manusia menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya. Namun pilihan itu perlu memperlihatkan kasih dan kesetiaan kepada Allah. Ia wajib berkonsultasi bersama Allah melalui doa (bd. Yer. 29 : 12 – 14 -> “… apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu, apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku,… Aku akan memulihkan keadaanmu…”; bd. Mat. 7:7 – 8, 11 -> Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”). TUHAN Allah menginginkan orang beriman (kristen) selalu membina dan memelihara hubungan baik dengan Dia. Di dalam hubungan baik itu Allah memberkati : membuat segala usaha berhasil. Jadi tidak orang beriman (kristen) patut berusaha mencari Allah, supaya ia menikmati kelimpahan hidup.

 Yesus Kristus berkata : “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh. 10:10b). Pernyataan itu tidak harus diartikan, hanya oleh iman saja orang beriman (kristen) memperoleh kelimpahan hidup. Kata kerja : “Aku (Yesus) datang” menunjukkan bahwa Allah bekerja (datang) menjumpai manusia. Oleh karena itu, orang-orang yang telah diselamatkanpun wajib datang (sinonim dari kata kerja : mencari) menemui Dia. Tanpa usaha orang beriman “mencari Allah”, iaakan mengalami kesulitan menemukan berkat-Nya meski ia bekerja sekuat tenaga.

 TUHAN dan nasib manusia. Kita selalu berpikir : “Sudah nasibku menderita keadaan ini. Mungkin Allah sudah menggariskan jalan hidupku demikian.” Ada benarnya ! Sebab Allah berfirman : “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” (Yes. 45:6-7). Dia-lah yang memberikan segala sesuatu menurut kehendak-Nya kepada setiap orang yang dicinta-Nya (bd. Maz. 127:3 -> “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”). Pertanyaannya : bagaimanakah manusia dapat meraih kesuksesan dan memperoleh kelimpahan hidup ? Allah berkata : “apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku,… dan kamu mencari Aku, maka Aku akan memulihkan keadaanmu” (Yer. 39: 12-16a; bd. Amos 5 : 4 -> “Beginilah firman TUHAN, hai kaum Israel : ‘Carilah Aku, maka kamu akan hidup’”).

 Takut akan Allah dan lakukan yang benar di mata-Nya.

 Takut akan TUHAN tidak sama artinya dengan takut Setan / Iblis. Tidak sama artinya dengan takut mendapat hukuman-Nya. Takut akan TUHAN berarti menghormati dan menyembah-Nya selaku Allah Pencipta. Dia menciptakan dan mengaruniakan nafas hidup (bd. Kej. 2:7 -> “TUHAN Allah membentuk manusia itu … dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Bukan hanya itu, sebagai Gembala juga memenuhi segala kebutuhan orang beriman (Maz. 23; bd. Plp. 4:19 -> “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus”, sesuai permohonan umat : “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” – Mat. 6:11 – yang dipanjatkan dalam nama Yesus : “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya…. apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” – Yoh. 15 : 7, 16 ).Takut akan TUHAN, menurut Yesus, sama artinya “tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu” {Paulus mengartikannya dalam 2 (dua) cara : pertama : “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia,… di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus” – Kol. 2:7; Eps. 4:15 -; kedua, melalui “Kamu telah belajar mengenal Kristus. … mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” – Eps. 4:20-21}.

 Pembelajaran itu (Eps. 4:20-21) bertujuan, agar orang beriman medngenal kehendak Allah yang dinyatakan melalui karya Yesus Kristus. Pembelajaran itu pula mndorong hati nurani dan akalbudi untuk melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya. Dengan demikian genaplah firman : “Berbahagialah orang yang mendengar firman Allah dan melakukannya dalam kehidupn sehari-hari”. Orang beriman seperti ini akan berhasil usahanya dan memperoleh kelimpahan.

 Hati-hati…. Jangan melupakan TUHAN dan janganlah tinggi hati !

 Ketika belum berhasil, Uziah tekun mencari Allah. Saat telah berhasil, Uzia berubah sikapnya kepada Allah dan sesama (2 Taw. 26:16 -> “Ia menjadi tinggi hati dan berubah setia kepada TUHAN”). Padahal melalui Musa TUHAN, Allah Israel, mengingatkan seluruh umat-Nya : “” (Ul. 8:14 -> “… jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu. Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, … kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu”).

 Catatan di atas mengingatkan semua orang beriman, bahwa keberhasilan pekerjaan sangat tergantung pada kesetiaan mengabdi dan memberlakukan firman Allah. Jika tidak demikian, Allah akan menggagalkan upaya siapapun, termasuk orang beriman.

 PENUTUP

 Pengajaran yang diulas di atas bermanfaat, ketika kita memberitakan dan mengajarkan Firman Allah dalam Ibadah Syukur Umat.

 a).   Pakailah ilustrasi cara hidup Raja Uzia.

 b).   Raja Uzia telah berbuat kesalahan besar kepada Allah. Sebelum berhasil raja “takut akan TUHAN dengan melakukan apa yang benar, dan rajin mencari TUHAN” (2 Taw. 26:4-5). Setelah Allah membuat segala usahanya berhasil, Uzia bukan semakin merendahkan diri di depan-Nya, melainkan semakin tinggi hati serta melakukan pekerjaan yang merusak (2 Taw. 26:16). Akhirnya TUHAN menghukumnya. Ia membuat Uzia mengidap penyakit kusta “sampai kepada hari matinya” (2 Taw. 26:19-21). Inilah sejarah sang raja yang melupakan TUHAN.

 C).   Belajar dari cara hidup Raja Uziah, orang beriman patut bebenah diri. Meskipun Allah telah membuat berhasil, tetapi kita tetap setia mengasihi Dia dan taat memberlakukan firman-Nya serta hidup dalam kerendahan hati. Hal inilah yang akan membuat kita menjadi cemerlang. Rasul Petrus mengingatkan semua orang beriman : “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (1 Pet. 5 : 6). Berbahagialah orang beriman yang melakukan semuanya itu !

MEDAN – SUMATERA UTARA,

Selasa, 22 Juni 2011

PDT. ARIE A. R. IHALAUW

—–oooo000oooo—–