24. GEREJA YANG SEHAT

STUDI KASUS

GEREJA YANG SEHAT

ALKITAB DAN PENGALAMANKU

 by

AMOR IHALAUW

PENDAHULUAN

Hidup itu diciptakan TUHAN untuk belajar. Belajar mencoba : berjalan, makan, bekerja, tidur, belajar berlari, belajar berdiri kalau terjatuh, belajar bertahan kalau tergelincir; termasuk belajar untuk mengenal diri, memperbaiki kesalahan dan membangun kembali masa depan yang lebih baik”. Belajar itu berarti mencoba segala sesuatu, tanpa mengenal menyerah. Sejauh perjalanan hidup kita masih harus dan terus akan belajar.

Saya mengerti makna tulisan Bung Yudis dari GPIB BAHTERA HAYAT di Soerabaya, Bung Notje Manuhutu dari GPIB GLORIA di Bekasi, Bung Lole Tiwow dari GPIB IMMANUEL di Depok, Bung Ronny Tomasouw dari GPIB Jemaat  KHARISMA di Jakarta, Bung Dommy Ratupeno, dan Mas Totok, serta beberapa teman lagi yang memposting masukannya melalui milis GPIB. Untuk itulah saya menuliskan artikel kedua ini, agar kita bersama-sama berdialog melalui media apapun dengan tujuan : membangun Gereja / Jemaat yang selalu mengaktualisasikan misi Allah dalam konteks masyarakat yang bergerak (berubah-ubah / berkembang).

MENGANALISA DAN MENGEVALUASI KARYA HIDUP

Hidup itu kerja. Hidup itu bergerak dan digerakkan. Hidup itu bergerak, karena ia memiliki kekuatan untuk berkembang. Gerak merupakan sifat alami dari kehidupan. Lihatlah tubuh ini. Kita tidak dapat menghalangi pertumbuhan organnya. Tiliklah ke dalam benak, kita tidak dapat menghambat pikiran yang bergerak. Pandanglah ke dalam hati, kita tidak dapat mengendalikan keinginan. Rasakanlah denyut jantung, kita tidak dapat menghentikannya, kecuali minum racun, maka matilah seluruh tubuh, jiwa dan roh yang dimiliki. Kita tidak dapat mematikan stimulus yang menggerakkan tubuh, jiwa dan roh untuk mencapai tujuan kehidupan (entahkah bertahap ataupun jangka panjang).

Hidup itu digerakkan, artinya : tubuh, roh dan jiwa memiliki kekuatan desktruktif dan konstruktif. Kekuatan itu tergantung pada pemiliknya; jika ia memanfaatkan potensi diri secara baik, maka hasilnya pun baik. Akan tetapi jika ia tidak membedayakannya, sama saja ia sedang membunuh kehidupan pribadinya. Hidup tidak terbatas dan terpusat pada diri sendiri. Hidup itu terlalu luas dan dalam, jika dibandingkan dengan karya filosofis pakar teologi dan pakar filsafat. Ia tidak bertindih tepat dengan definisi ilmiah. Ia bisa menjadi kekuatan kecil yang membuahkan hasil besar, tetapi juga bisa menjadi kekuatan besar yang menghancurkan segala sesuatu. Ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia menggerakkan hidupnya. Menangis, adalah tanda kehidupan, sebab melalui tangisan itu si bayi menyatakan kepada semua orang : “Aku sudah ada (lahir). Aku hidup !” Si bayi memproklamasikan eksistensinya kemada semua orang, mulai dari persekutuan hidup di dalam keluarga. Cobalah menganalisa dan mengevaluasi pengalaman hidup sejak masa kecil, kita akan menghargai hidup ini.

Sifat hidup. Hidup itu bersifat terbuka. Tangis seorang bayi merupakan pernyataan eksistensial tentang kehidupan pribadi. Itu benar ! Ia tidak hanya menangis untuk memperdengarkan suara kehidupan. Ia menangis dalam kehangatan pelukan bundanya. Dalam pelukan itu ia merasakan sentuhan kemanusiaan yang mengalir dari hati yang mencintainya. Ia menangis dalam sebuah persekutuan : ayah – bunda, adik – kakak, paman – bibi, dan kakek – nenek. Ia mengangis sebagai seorang anggota keluarga. Pada saat itulah seorang wanita disapa sebagai bunda, dan seorang pria dipanggil ayah. Inilah makna dari hidup yang terbuka — terarah kepada sesama.

Hidup itu merupakan serentetan pengalaman sejarah yang terbentang luas ke masa depan. Sejak masa kecil sampai uzur, setiap pemilik hidup pasti berjalan dan pasti mengalami berbagai kondisi kehidupan. Kegagalan – kesuksesan, tawa – tangis, suka duka, derita – bahagia bukan keadaan yang menyerang dari luar. Keadaan seperti itu hanyalah benturan psikologis, ketika seorang bayi mulai memasuki “alam baru”. Dan, siapapun pasti mengalaminya. Ketika saya membawa hidup berjumpa dengan hidup orang lain, maka saya sadari akan semua risiko yang akan dialami dalam perjumpaan hidup bersama orang lain. Perjumpaan adalah peristiwa kehidupan antar manusia di dalam persekutuan / masyarakat.  Dan, keadaan (suka – duka, sukses – gagal, dsb) lahir dalam perjumpaan, sedangkan tangis dan tawa merupakan sikap yang mengungkapkan suasana bathin pelaku / pemilik hidup.  Orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, ia bukan seorang berhikmat !

Saya tidak sedang berfilsafat tentang hidup dan kehidupan. Saya mengakui, bahwa tiap-tiap orang memiliki pengalaman yang unik sepanjang perjalanan hidupnya. Dari sinilah kita perlu belajar tentang pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain.

SIKAP TERHADAP ALKITAB

ALKITAB, menurut pemahaman iman saya, adalah buku yang menceritakan pengalaman hidup seseorang atau sekelompok orang dalam perstiwa sejarah. Ketika saya mulai belajar membaca, kitab yang pertama saya vaca adalah ALKITAB (dulu belum ada buku-buku dongeng karangan Anderson). Hampir tiap hari saya membacanya. Saya tidak pernah berpikir seperti seorang teolog atau filosof. Saya hanya mengetahui satu hal : betapa heroiknya orang-orang yang diceritakan dalam Alkitab, ketika mereka mengatasi masalah kehidupan. Betapa luar biasanya Yesus, seorang anak desa, yang mampu melakukan berbagai hal dahsyat. Hari demi hari rasa cinta bertumbuh bersama-sama dengan kekagumanku terhadap tokoh dari Nazaret ini.

Setelah saya berkuliah dan belajar tentang Alkitab, saya berpendapat, adalah cerita-cerita tentang kehidupan orang-orang yang berjumpa dengan TUHAN dalam perjalanan hidup menuju masa depan. Dalam perjumpaan itu seseorang atau sekelompok orang tang menderita memohonkan bantuan TUHANnya, lalu Allah pun menolongnya. Kemudian orang-orang yang dibebaskan TUHAN menuliskan pengalaman bathinnya, agar generasi yang lahir di kemudian hari dapat belajar mengenal TUHAN yang disembah leluhurnya. Pengalaman bathin itu menjadi kekuatan spiritual, pendukung kehidupan. Dalam rumusan apapun yang kita definisikan, saya berkata : “Perjumpaan dengan kekuatan ilahi itu telah menguatkan bathinku, ketika aku sendirian menghadapi masalah. Kekuatan ilahi itu adalah spiritualitasku, dan itulah imanku”. Iman bukanlah rumusan indah seperti Ibrani 11:1. Iman itu sangat sederhana. Iman, bagiku, adalah perjumpaan dengan Yang Ilahi (yang oleh Alkitab disebut : ALLAH TRINITAS) dalam perjalanan ke masa depan. Semakin banyak membaca Alkitab, semaki bertambah cinta kepada Yang Ilahi, yang datang dalam nama Kristus-Yesus.

Saya tidak pernah menemukan nama itu di dalam surat kabar, mendengarnya dari media elektronik, dan menyimaknya dalam buku-buku pengetahuan. Saya hanya mengetahui serta mengenalnya, katika saya membaca Alkitab. Tanpa  membaca ALKITAB, saya tidak mengenal Allah yang disebut KRISTUS-YESUS. Mustahil !

Alkitab sumber pengetahuan. Entahkah siapapun yang menjuluki saya konservatif, tetapi prinsip saya Cuma satu : Alkitab telah mendorong banyak orang untuk menyelidiki dan menganalisa seluruh alam semesta ciptaan Allah. Banyak ilmuwan di Eropah – Amerika telah lupa, bahwa tanpa disadari ia terinspirasi oleh tulisan-tulisan di dalam Alkitab, sehingga ia meneliti : apakah kesaksian Alkitab itu benar ataukan tidak benar. Setiap pembaca yang pernah berjumpa dengan Alkitab pasti didorong oleh keingin tahuannya tentang kebenaran material dari bukti historis yang diceritakan Alkitab.

Alkitab adalah saksi bisu dari pengkhianatan manusia kepada Yang Ilahi, yang diidentifikasikan sesuai sebutan konteks bahasa. Lihatlah dan belajarlah dari fenomena keagamaan, agai kita menjadi bijak. Dimanakah kita menemukan penganut agama yang membiarkan Kitab Sucinya dijadikan objek penelitian ilmiah dan akhirnya ditolak mentah-mentah ? Bukankah hal itu diperlakukan oleh manusia terhadap Alkitab, sama seperti Kristus-Yesus diperlakukan oleh bangsa-Nya ? Sama seperti Kristus membisu di hadapan penguasa agama dan pemerintahan sipil, demikian pun Alkitab tidak pernah membela diri terhadap tuduhan dan dakwaan kita. Sekalipun kita berbuat demikian, Alkitab tetap menjadi sumber inspirasi yang mendorong semua orang mencari pikiran Yang Ilahi. Inilai mutu kekuatan supranatural Alkitab. Ia menjadi sumber inspirasi bagi pemikir-pemikir maju untuk mencari pikiran Allah (Yang Ilahi) dalam huruf-huruf mati.

Alkitab adalah Guru yang mengajari orang tentang kemanusiaan yang benar. Banyak bukut biograpi dan otobiograpi yang telah dilahap habis sepanjang perjalanan ini, namun tidak satupun buku itu bercerita jujur tentang pelaku sejarah. Hanya di dalam Alkitab, saya menemukan kejujuran yang menelanjangi siapapun tanpa mengenal atributnya. Tak mungkin seorang presiden dihina dan diperlakukan tidak baik oleh penulis biograpinya. Tetapi Daud tidak pernah membunuh Nathan, ketika ia menelanjangi perzinahan yang dilakukan Daud bersama Bath-sheba, isteri Uria. Nilai etis-moral inilah yang tidak pernah say abaca dalam banyak buku biographi dan otobiographi seorang negarawan. Saya berusaha menjadi jujur, karena saya belajar dari catatan-catatan sejarah manusia di dalam Alkitab. Melalui berbagai cara, Alkitab mempertemukan saya dengan kepribadian manusia yang asli / hakiki, yang sudah hilang sejak nenek moyang manudia jatuh ke dalam dosa.

Jadi bagaimanakah sikap dan pandangan saya terhadap Alkitab ? Buku itu menjadi sahabat terdekat yang berserita tentang cinta-kasih seorang sahabat. Dia selalu memberi penghiburan, ketika aku bersedih. Selalu memberikan kekuatan, ketika saya semakin lemah. Selalu memberikan motivasi, ketika saya tidak lagi bersemangat. Selalu memberikan keberanian, ketika saya takut. Selalu memberikan solusi, karena pikiranku kalut dan hatiku kehilangan semangat. Dia selalu mengajari saya tentang satu hal : tuluslah mencintai sesama, dan jujurlah terhadap Allah ! Di dalam Alkitab, aku bertemu dengan satu-satunya pelaku sejarah yang memiliki kepribadian tangguh, Dialah Yesus anak desa yang memegang  tongkat Gembala. Semakin saya membaca biograpi-Nya, bertambah besar cintaku kepada-Nya. Sebab saya menemukan sebuah kenyataan konkrit : DIA MENYEMPURNAKAN PEKERJAAN YANG KULAKUKAN TIDAK SEMPURNA DAN DIA MEMENUHI APA YANG TIDAK KUPIKIRKAN TENTANG HARI ESOKKU. Saya tidak mengenal-Nya dari tulisan-tulisan manapun. Saya mengenal-Nya, karena saya membaca ucapan-ucapan-Nya di dalam Alkitab.

Membaca surat cinta. Enam tahun masa kami berpacaran sebelum menikah. Kami terpisah jauh, karena pemutasian. Calon isteriku menjadi Ketua Majelis Jemaat “GPIB BUKIT KASIH” di Soerabaya, sementara saya di GPIB Jemaat IMANUEL di Tarakan. Hampir setiap hari saya menelepon kekasihku, agar kerinduan hatiku terjawab. Dan, kekasihku selalu menyambut penuh perhatian. Saya merasakan keindahan hatinya melalui suara dari seberang telepon.

Lantas apakah yang dapa saya samakan dengan Kekasih Jiwaku ? Bagaimanakah saya dapat merasakan getaran cinta-Nya ?  Hanya satu : setiap hari kusempatkan waktu untuk membaca surat cinta-Nya. Setiap kali saya membacanya, kulihat wajah-Nya bermain dalam pikiranku. Saya merasa kengahatan cinta yang menguatkan diri ini sepanjang masa kesepian, karena pelayanan yang dikerjakan jauh dari sisi calon isteriku. Alkitab bagiku adalah surat cinta yang terbuka, di mana saya berdialog melalui meditasi. Alkitab membantuku menemukan cintaku yang hilang, dan meneguhkan hatiku ketika saya merasa kesepian. Di dalam Alkitab saya mendengar suara Allah yang menyapaku dengan lembut : “Engkaulah, anak-Ku, anak-Ku yang Kukasihi”.  Saya berbahagia, bukan karena saya menjadi Pendeta GPIB, tetapi karena Kekasih Jiwaku menguatkan hatiku untuk terrus melayani jabatanku, sebagai ungkapan syukur dan rasa terima kasih kepada Dia, yang bersedia menjadi Kekasihku.

Saya selalu berdoa :

YA ALLAH. BERIKANLAH AKU KEKUATAN UNTUK SELALU BERJALAN MELAYANI JABATANG YANG KAUKARUNIAKAN KEPADAKU. TUMBUHKAN DI DALAM HATIKU CINTA-KASIH UNTUK SELALU SETIA MENGASIHIMU. MESKIPUN BANYAK KEMALANGAN YANG KUHADAPI, SAYA AKAN SELALU BERDIRI DI ATAS DASAR JANJI IMANKU KEPADAMU. AKU MAU MELAYANIMU, YESUS.

CATATAN KRISTIS       :

Tiap orang memiliki pengalaman bathin / iman bersama Allah di dalam Kristus-Yesus. Tiap orang menyadari dan mengakui hakekat dan eksistensi Alkitab. Tiap orang mampu merumuskan pengalaman imannya itu ke dalam bentuk tulisan atau mengungkapkannya dalam bentuk lisan. Semua pengalaman iman dalam perjumpaan dengan Allah di sepanjang perjalanan merupakan karunia Rohkudus yang sangat memiliki nilai tamba.

Dari sinilah kita bisa memulai pekerjaan pembangunan GEREJA YANG SEHAT. Dari pengalaman hidup itulah kita dapat merumuskan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Itulah kekayaan yang diberikan Allah ke dalam persekutuan umatnya. Mulailah menuliskan pengalaman hidup kalian dengan TUHAN.

MEDAN, 09 AGUSTUS 2010

Kutuliskan catatan harianku ini, karena kerinduanku kepada-Mu, Yesus

AMOR IHALAUW